Tampilkan postingan dengan label Brain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Brain. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Desember 2011

Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ)

Kecerdasan ini ditemukan pada sekitar tahun 1912 oleh William Stern. Digunakan sebagai pengukur kualitas seseorang pada masanya saat itu, dan ternyata masih juga di Indonesia saat ini. Bahkan untuk masuk ke militer pada saat itu, IQ lah yang menentukan tingkat keberhasilan dalam penerimaan masuk ke militer.
Kecerdasan ini terletak di otak bagian Cortex (kulit otak). Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan kita kemampuan untuk berhitung, bernalogi, berimajinasi, dan memiliki daya kreasi serta inovasi. Atau lebih tepatnya diungkapkan oleh para pakar psikologis dengan “What I Think“.

2. Kecerdasan Emosional (EQ)
Mulai menjadi trend pada akhir abda 20. Kecerdasan ini di otak berada pada otak belakang manusia. Kecerdasan ini memang tidak mempunya ukuran pasti seperti IQ, namun kita bisa merasakan kualitas keberadaannya dalam diri seseorang. Oleh karena itu EQ lebih tepat diukur dengan feeling.

Kecerdasan emosional digambarkan sebagai kemampuan untuk memahami suatu kondisi perasaan seseorang, bisa terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Banyak orang yang salah memposisikan kecerdasan Emosional ini di bawah kecerdasan intelektual. Tetapi, penelitian mengatakan bahwa kecerdasan ini lebih menentukan kesuksesan seseorang dibandingkan dengan kecerdasan sosial. Kecerdasan ini lebih tepat diungkapkan dengan “What I feel
Pertama kali digagas oleh Danar Zohar dan Ian Marshall, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University. Dikatakan bahwa kecerdasan spiritual adalah sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.
Kecerdasan ini terletak dalam suatu titik yang disebut dengan God Spot. Mulai populer pada awal abad 21. Melalui kepopulerannya yang diangkat oleh Danar Zohar dalam bukunya Spiritual Capital dan berbagai tulisan seperti The Binding Problem karya Wolf Singer.
Kecerdasan inilah yang menurut para pakar sebagai penentu kesuksesan seseorang. Kecerdasan ini menjawab berbagai macam pertanyaan dasar dalam diri manusia. Kecerdasan ini menjawab dan mengungkapkan tentang jati diri seseorang, “Who I am“. Siapa saya? Untuk apa saya diciptakan?

Bagaimana Kecerdasan Intelektual (IQ) Saja Tanpa Kecerdasan Emosional (EQ)?
Sahabatku, banyak di dunia ini hanya diukur dari kecerdasan IQ saja. Padahal menurut penelitian para pakar, kecerdasan IQ hanya menyumbang 5% (maksimal 10%) dalam kesuksesan seseorang. Mulai dari kita belajar di Sekolah Dasar dari sistem NEM sampai kuliah dengan sistem IPK. Bahkan tidak jarang banyak perusahaan yang merekrut seseorang berdasarkan dari test IQ saja.
Seperti apa IQ tanpa EQ?
Coba kita pahami melalui kisah berikut:
Eki memang tidak terlalu pintar dalam mata kuliah statistik. Entah kenapa pelajaran ini terasa berat dan susah ‘nyantol’ di otaknya. Di semester kemaren dia mendapatkan nilai D untuk pelajaran ini. Namun Eki tidak putus asa, semester berikutnya dia mencoba lagi. Berbagai ramuan penahan rasa kantuk dia minum hampir setiap malamnya hanya untuk menjadi teman penahan agar tetap melek dan konsen dalam belajar. Akhirnya masa akhir semester pun tiba, dan kini dia mendapatkan nilai B. Betapa senangnya Eki ketika itu, rasanya ingin dia memberikan bingkai figura daftar nilai B tersebut dan memasangnya di kamar untuk jadi kenangan sampai akhir hidup.
Di saat kesenangannya itu dia bercerita kepada Iko salah satu seorang temannya. “Ko akhirnya statistik ku dapet nilai B“, ujar Eki dengan hebohnya bagai mendapatkan durian runtuh.
“Ah baru dapat nilai B saja udah seneng, aku yang dapet A aja biasa-biasa aja“, sahut Iko. Iko memang terkenal pintar di kelasnya. Tak pernah luput darinya rangking 3 besar semenjak SD.
Eki yang saat itu sedang berbinar-binar tiba-tiba langsung menciut hatinya ketika mendegar komentar dari Iko. Bagaikan kompor yang sedang menyulut tinggi tiba-tiba padam karena tersiram air.

Coba kita lihat bagaimana sikap yang ditunjukkan oleh Iko. Memang dia pintar, tetapi tidak mampu memahami perasaan yang dialami oleh Eko. Banyak orang di dunia ini yang pintar namun tidak mampu berkomunikasi secara perasaan kepada orang lain. Bagaikan paku yang pernah dihujam ke sebatang kayu, walaupun bisa dicopot kembali namun lubang itu akan masih tetap ada.

Sekarang kita lihat bagaimana EQ bekerja terhadap situasi seperti ini:
“Hi, kenapa kamu terlihat sedih hari ini Ki?” sapa Intan begitu masuk ke kelas.
“Yah, aku cuman dapet nilai B dalam statistik” ujar Eki dengan nada lesu karena habis terciutkan oleh perkataan si Iko.
“Wow hebat donk, kamu ngulang lagi kan kemaren gara-gara dapet D. Bagus donk sekarang dapet B“, hibur Intan kepada Eki.
“Iya, tapi si Iko dapet A dan begitu aku cerita kepadanya….“
“Yaah… kamu tau sendiri kan si Iko orangnya gimana? Tak perlu risau, udahlah jangan kau masukkan ke dalam hati omongan dia. Aku tahu koq perjuangan kamu, kamu udah berusaha giat untuk mengejar nilai ini. Dan ingat tidak bahkan hampir setiap minggu kamu bertanya kepada orang tentang pelajaran ini yang gak kamu ngerti. Malah aku salut ngelihat mahasiswa kayak kamu Ki” ujar Intan membanggakan Eki.

Dan senyuman Eki mulai terlihat di bibirnya.
Begitulah EQ itu bekerja dan mampu memberikan kesuksesan dalam diri kita. EQ dan komunikasinya yang baik mampu memberikan apresiasi ke dalam diri sendiri dan orang lain seperti yang dilakukan Intan. Walau Intan sebenarnya juga tidak kalah pintarnya dalam pelajaran dibandingkan Iko, namun dia juga pintar memahami perasaan orang lain. EQ membantu kita menjadi seseorang yang sukses dalam bersosial dan berkehidupan.
Bagaimana Kecerdasan Intelektual (IQ) dan Kecerdasan Emosional (EQ) Tanpa Kecerdasan Spiritual (SQ)?
Kita sudah paham apa itu IQ dan EQ serta bagaimana keduanya apabila bekerja bersinergi. Namun apabila kedua kecerdasan tersebut tidak disinergikan dengan SQ maka akan berakibat fatal. SQ sendiri bukanlah untuk menjadi “ahli pertapa”, duduk termenung dan diam menikmati indahnya spiritualitas.

Seperti apa punya IQ dan EQ tanpa SQ?
Banyak orang cakap dan pintar di dunia ini, salah satunya adalah Hittler. Kita semua mengenal Hittler sebagai pemimpin yang handal. Mampu mempengaruhi sebagian belahan dunia untuk berada di dalam kekuasaannya. Perlu diketahui pula, hittler termasuk salah seorang pempimpin yang hebat dalam hal IQ dan EQ. Buktinya dia mampu dielu-elukan oleh para pengikutnya. Bahkan ada sebuah statemen yang berasal dari dia, “Seribu kebohongan akan menjadi satu kebenaran“.
Namun dibalik kejayaannya, dia mempunyai niatan yang buruk. Tujuan yang tidak mulia. Itulah gambaran cakap IQ dan EQ namun tanpa SQ, tidak menyadari makna/value dalam diri serta siapa dirinya dan untuk apa dirinya diciptakan.
Contoh lain adalah, Yakuza. Kita mengenal berbagai bentuk sindikat di dunia. Kalau di Itali ada namanya mafia, di Jepang dikenal dengan Yakuza. Sebuah sindikasi Yakuza terdiri dari orang-orang yang hebat dan solid. Mereka memiliki kemampuan berbisnis dan berorganisasi dengan cakap. Kultur mereka mempunyai semangat juang yang tinggi, loyalitas yang hebat, serta solidaritas yang kuat. Namun jeleknya tujuan mereka (pemaknaan/value) bukan pada tujuan yang mulia. Bahkan apabila mereka melakukan kesalahan yang mengakibatkan membahayakan temannya, mereka harus memotong jari mereka.

Bagaimana di Indonesia? Tentu saja di Indonesia terdapat banyak orang pintar dan cakap (dan saya sangat yakin itu). Tetapi banyak yang berakhlak dan bermoral buruk. Bagaimana dengan koruptor? Tentu saja menjadi seorang koruptor harus memiliki EQ dan IQ yang baik. Dia cerdas dan harus jago berstrategi. Jago bernegosiasi, berkomunikasi, dan mampu merebut hati orang untuk mau diajak berspekulasi dan berkompromi dengannya. Semangat juang tinggi? Tentu, mereka nampak selalu prima dan percaya diri. Namun akhlak dan moralnya? Masih bobrok. Itulah cakap IQ dan EQ namun tidak memiliki SQ.
Bahkan menurut sebuah penelitian, kunci terbesar seseorang adalah dalam EQ yang dijiwai dengan SQ. Banyak seseorang yang diPHK dari pekerjaannya bukan karena mereka tidak pintar, bukan karena mereka tidak pintar mengoperasikan sesuatu, bahkan bukan karena ketidak mampuannya berkomunikasi. Tetapi karena tidak memiliki integritas. Tidak jujur dan tidak bertanggung jawab.

Inilah gambaran bagaimana SQ masih belum bekerja di banyak sistem di bumi ini.

IQ digambarkan sebagai “What I think?“, EQ “What I Feel”, dan SQ adalah kemampuan menjawab “Who I am“. Siapa saya? Dan untuk apa saya diciptakan. Tuhan Maha Adil, sebenarnya kita memiliki semua kecerdasan ini tetapi tidak pernah kita asah bahkan kita munculkan. Untuk menjadi seorang pribadi yang sukses kita harus mampu menggabungkan dan mensinergikan IQ, EQ, dan SQ. Ilmu tanpa hati adalah buta, sedangkan ilmu tanpa hati dan jiwa adalah hampa. Ilmu, hati, dan jiwa yang bersinergi itulah yang memberikan makna.
http://www.sekolahdasar.net/2009/10/kecerdasan-intelektual-iq-kecerdasan.html

Potensi Otak Kanan


Otak kanan.. kata Stephen Holland adalah ”animal brain”; menganalisis lingkungan dengan mengerahkan kemampuan penglihatan dan pendengaran untuk bertahan hidup. Nah, manusia punya bagian ini, tapi dia diletakkan di otak bagian kanan. Katanya seperti itu. Maka kalau kita perhatikan, potensi potensi otak kanan banyak sekali berkaitan dengan hal hal yang berhubungan dengan insting, naluriah, fitrah, visual dan hal hal seperti itu.
Apa saja potensi otak kanan?
1.   Penglihatan
Penglihatan pada bagian ini berkembang dengan sangat baik. Dan pada manusia, dengan bantuan otak kiri, kita dapat memberikan simbol (misalnya seperti nama) pada penglihatan visual tersebut. Misalnya jika dikatakan kelinci, maka otak kanan akan mencari ilustrasi yang tepat untuk kelinci dipikiran kita.
Kalau hewan tidak punya kemampuan seperti itu. Mereka tidak punya kemampuan memberi nama atas sesuatu; tapi murni hanya kemampuan visual semata. Kucing, ular dan hewan lainnya itu saling mengingat dengan visual mereka didalam hati, bukan dengan nama. Yah, inilah salah satu kelebihan yang Allah berikan kepada keturunan Bani Adam.. :)
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”
Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .”
Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ?”
(Qs Al Baqarah : 31 – 33)

2.   Indra Spasial / Ke-Ruang-an
Indra spasial ini membaut kita bisa melihat objek didalam pikiran. “Eye Mind” katanya. Ada dua macam indra spasial
1. Objek spasial yang memungkinkan bagi kita untuk ‘memutar2′ objek dalam pikiran kita. Manusia menggunakan potensi ini untuk membangun rumah, mendesain perhiasan, memperbaiki mobil, dan lain lain.
2. Navigasi spasial. Dengan kecerdasan navigasi spasial, hewan bisa mengetahui dimana dia berada ketika berada di lingkungan yang sangat luas; memastikan mereka tidak sedang tersesat dan tidak buta arah. Manusia menggunakan kemampuan ini untuk menemukan mobil mereka di tempat parkir raksasa, atau ketika di pusat perbelanjaan yang super besar. Secara simbolis kita menerjemahkan lokasi menjadi sebuah peta, menunjuk dengan jari, serta menggunakan lokasi dan nama jarak. Lebah, ternyata mencoba men-simbolisasi sumber makanan kepada temannya yang lain dengan tari tarian, ketika manusia cukup menyebutkan simbol tersebut dalam bentuk verbal “Dari wisma akhowat RI, lalu ke perempatan menuju masjid Al Ashri, belok kiri, terus saja, sebelum ada pertigaan disitu ada Warung Hasan disebelah kanan jalan, masakan khas Sumatera..” hehe.. Misalnya seperti itu.
3.   Irama
Hewan, berkomunikasi satu sama lain dengan mengeluarkan suara ditambah irama irama tertentu. Mereka mampu menganalisis melodi, interval, harmoni dan irama dari suara yang mereka terima. Manusia, dengan bantuan otak kirinya bisa membuat yang jauuhh lebih kompleks lagi.
4.   Indra Tubuh
Ada lagi kemampuan Indra tubuh. Karena otak itu ‘buta’ maka ia harus belajar tentang tubuh yang membawanya. Proprioception adalah salah satu indra tubuh yang menggunakan sensor pada otot untuk menginformasikan dimana posisi tungkai. Begini contohnya; jika seseorang lemah pada bagian ini, maka seorang pemain piano akan salah memperkirakan dimana jarinya akan mendarat, atau seseorang yang sedang senam tidak tahu dengan pasti dimana posisi tungkai kakinya. Biasanya amat berguna ketika berolah raga.
5.   Memori
Ternyata, (kata Stephen Holland) proses terjadinya memori ini masih belum banyak diketahui. Setidaknya, yang diketahui adalah proses memori terjadi di Temporal Lobus. Dan untuk Temporal lobus bagian kana, memorinya bersifat Visual dan suara suara non verbal (irama dan musik, bukan bahasa verLbaL). Ada beberapa macam memori,
1. Memori Wajah. Sejak kecil, kita sudah melihat banyak sekali jenis jenis wajah, dan otak mulai memperlajari bagaimanakah wajah ‘rata rata’ itu. Otak pun mengingat seseorang dengan lebih spesifik berdasarkan perbedaan mereka dari wajah rata rata. Hal sama terjadi juga sama hewan. Mungkin manusia kalau melihat sapi itu mukanya akan sama saja. Tapi kalau sapi, melihat teman2 nya akan berbeda2.
2. Memori Emosi adalah fitur spesial dari bagian depan Temporal Lobus. ia seperti memberi label emosi pada memori kita untuk membedakan mana memori yang lebih penting. Inilah ternyata salah satu dasar terjadinya trauma, phobia, prasangka2 yang bersifat rasis/kesukuan. Kalau hal ini menimpa kita ketika kecil, maka akan sulit sekali dihilangkan ketika dewasa
6.   Area Kreatif dan “Go” atau “Action” area
Jenis kreatif disini tergantung dari jenis talenta yang mana ia lebih kuat. Misalnya ada seseorang lebih kreatif dalam hal dance, atau mungkin seni, mungkin juga masalah musik, atau arsitektur.. macam macam.
Di area ini juga terdapat pusat “Go” atau “Action”; bersegera bergerak atau merealisasikannya. Inilah inti dari buku buku tulisan Pak Ippho Santosa. Salah satu himbauan beliau adalah, berpikir dengan otak kanan yaitu, segera laksanakan, action, tidak usah terlalu banyak mikir; Bagus sekali.
Banyak sekali dalam agama ini perintah untuk menyegerakan melakukan segala amal shalih dan kewajiban.. menyegerakan berbuka, menyegerakan menikah, menyegerakan melakukan kebaikan.. dan para nabi adalah orang orang yang paling bersemangat untuk melakukan kebaikan..
”Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan berbagai macam kebaikan,” (Qs. Al Anbiya : [21] 90)
“Bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi dan dipersiapkan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)
“Berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan.” (QS. al-Ma’idah: 48)
Ibnu ‘Umar berkata, “Kalau engkau berada di waktu pagi jangan sekedar menunggu datangnya waktu sore. Kalau engkau berada di waktu sore jangan sekedar menunggu datangnya waktu pagi. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan gunakanlah masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari. 6053, Kitab ar-Raqaa’iq
7.   Area Peng-hambat-an; NO area
Area ini terletak di bagian bawah Lobus Frontal. Tugasnya adalah menghambat area ‘Go” atau “action” diatas, untuk menyeimbangkan dan mencegah seseorang melakukan hal hal berbahaya. Inilah yang membantu kita belajar mana yang benar mana yang salah, mengedepankan hati nurani, dan belajar sopan santun.
jika area ini ‘lemah’ dan tidak berkembang dengan baik, maka akan tercipta manusia dengan kontrol diri yang rendah, bahkan anti sosail dan berperilaku kriminal;premanisme dan dapat membahayakan orang lain.
Sebaliknya jika area ini ‘kuat’, maka seseorang akan cenderung untuk menepis datangnya ide ide baru dan sugesti, sehingga menjadi pribadi yang over – pretected terhadap dirinya sendiri.
8.   Premotor area
Area ini, adalah area tempat kecerdasan gerakan gerakan yang melibatkan otot. Misalnya, belajar gerakan2 seperti dansa, gerakan mengayunkan raket, atau terampil mengocok kartu, dan gerakan gerakan semisal. Menariknya, keterampilan ini dapat dipelajari secara mental. Maksudnya dipelajari dengan membayangkan saa. Saya pernah dengar, ada seorang narapidana yang ketika dipenjara dia belajar bermain golf tanpa stik golf. Ketika ia keluar dari penjara, dia sungguh sungguh bisa bermain golf. Practicing mentally
Jika area ini kuat, maka seseorang dapat mempelajari gerakan gerakan yang kompleks dalam waktu yang singkat. Sedangkan jika area ini ‘lemah’ maka seseorang akan lambat belajar, dan butuh latihan yang lebih banyak.)
 
Ciri ciri otak kanan 
1.  Relational [Orientasi pada hubungan hubungan]
2.  Spacial [orientasi ruang dan bentuk/dimensi]
3.  Musical [kemampuan mengerti musik]
4.  Accoustic [Kemampuan Menyerap Bunyi]
5.  Holistic [Pandangan yang menyeluruh]
6.  Multiple [Kecenderungan Penggandaan]
7.  Artistic [Orientasi pada Keindahan]
8.  Symbolic [Orientasi pada simbol simbol]
9.  Imaginative [Kecenderungan berimajinasi]
10.    Simultaneous [Kecenderungan secara tetap]
11.    Continuous [Tindakan yang berlanjut]
12.    Emotional [orientasi pada otak emotional]
13.    Sensuous [Orientasi pada 'Rasa']
14.    Intuitive [Orientasi penggunaan intuisi]
15.    Creative [Orientasi pada kreatifitas]
16.    Minor-Quit [kecenderungan selalu bergerak]
17.    Timeless [tidak terikat dengan waktu]
18.    Spiritual [Orientasi pada kejiwaan]
19.    Divergent [Kecenderungan berbeda]
20.    Metaphoric [kemampuan pada hal tak kasat mata]
21.    Qualitative [Orientasi pada kualitas]
22.    Subjective [orientasi pada proses]
23.    Receptive [Orientasi pada sikap membuka diri]
24.    Horizontal [orientasi pada pemikiran menyamping]
25.    Synthetic [Kecenderungan Meniru]
26.    Concrete [Kecenderungan pada hal konkrit]
27.    Facial Recognition [kemampuan pengenalan tampilan]
28.    Comprehensive [Orientasi berfikir luas]
29.    Impulsive [kemampuan bertindak tanpa rencana]
30.    Ezistential [kemampuan menampilkan diri]
31.    Perception of Abstract pattern [persepsi pada pola pola abstract]
32.    Recognition of Complex Figure [Pengenalan pada pola yang kompleks]

Template by:

Free Blog Templates